Categories
Barista

Barista Vs. Pendekar Kopi

Sebuah istilah yang sempat hits di awal naiknya kopi spesial di Jakarta. Sampai sekarang istilah ini masih dipakai oleh orang-orang untuk para pelanggan dengan kelakuan unik ini.

Istilah pendekar kopi adalah seperti layaknya seorang pendekar kungfu menantang pendekar dari perguruan/aliran kungfu yang lain demi mendapatkan pernyataan bahwa dia-lah pendekar yang terbaik dengan cara mengalahkannya, malah mungkin sekaligus mencari pengikut untuk aliran/perguruan kungfu pendekar tersebut. Siapa pencetus istilah pendekar kopi, tidak ada yang tahu secara spesifik karena ini adalah sebutan di kalangan barista yang mendapatkan pelanggan unik dalam bentuk nyinyiran.

Menurut Willy Sidewalk di bukunya Barista #NoCingCong, ciri-ciri dari pendekar kopi di setting sebuah kedai kopi adalah sebagai berikut:

1. Menyeruput kopi dengan kencang saat ngopi di coffee shop, layaknya seperti cupping kopi.

2. Menguji wawasan kopi pada barista di coffee shop, dengan menanyakan hal teknis mengenai kopi dan merasa puas bila barista yang melayaninya kewalahan.

3. Mentor wannabe, sok mengajarkan akan hal yang tidak ketahui oleh barista.

4. Bawa kopi sendiri, tanpa membeli apapun di kafe tersebut dan berharap kopi yang dibawa diseduh.

Selain ciri-ciri di atas, menurut pengalaman saya, pelanggan yang memesan kopi filter dan request kopinya dibuat dengan resep yang spesifik (perbandingan kopi dan air, suhu air, dan dripper kopi yang spesifik) juga termasuk sebagai pendekar kopi. Tujuan mereka menggunakan resep ini adalah, karena menurut mereka resep inilah yang akan membuat kopi yang dipesannya menjadi nikmat.

Dari semua ini kita mendapat kesan bahwa pendekar kopi adalah sesuatu yang buruk. Mereka juga terkesan tidak memiliki tata krama sebagai pelanggan ketika datang ke sebuah kedai kopi. Menurut saya, ditambah lagi dengan cara pendekar kopi ini menantang kedai kopi dengan ilmu-ilmu yang dia ketahui tentang kopi spesial, sebenarnya menunjukan seberapa ketidaktahuannya tentang kopi. Karena ada banyak sekali variabel yang bisa mempengaruhi rasa kopi yang diracik oleh barista kepada pelangganannya. Hal-hal kecil baik faktor eksternal dan juga internal (dari diri pelanggan itu sendiri).

Tetapi saya juga berpendapat bahwa, pendekar kopi juga memiliki sisi positif yaitu memunculkan dialog dengan barista. Sebenarnya di sinilah para barista tertantang untuk memberikan respon yang sesuai akan pertanyaan atau request unik dari mereka agar bisa memulai sebuah percakapan dan malah mungkin saja membangun sebuah hubungan baru sebagai return customer (pelanggan yang kembali lagi karena puas akan pelayanan yang diberikan). Jangan sampai karena pengecapan akan istilah pendekar kopi ini malah menjadi penghambat akan dialog atau tukar pendapat antara barista dan juga pelanggan untuk membahas kopi spesial lebih jauh lagi di sebuah kafe. Pada akhirnya, menurut saya, para barista harus membuat semua pelanggannya nyaman ketika minum kopi di mana mereka bekerja, termasuk pada pendekar kopi.

3 replies on “Barista Vs. Pendekar Kopi”

Leave a reply to Sylvia Feransia Cancel reply