Sebuah pengingat.
Ketika kita berbicara mengenai kopi yang adalah sebuah minuman, maka kita berbicara mengenai rasa. Tentu saja secara tidak langsung kita berbicara mengenai selera atau preferensi. Begitu banyak karakteristik kopi yang ada, dari yang memiliki rasa buah-buahan, bunga, cokelat, kayu, rempah-rempahan, tanah, dan lain sebagainya. Selera orang akan kopi yang disukai tentu saja berbeda, baik pelanggan maupun barista yang meracik dan juga menyajikan kopi tersebut di kedai kopi.
Saya baru tersadarkan bahwa salah satu tantangan menjadi seorang barista adalah bagaimana mereka diharuskan untuk berpikiran terbuka (open minded) dan berpikir secara objektif akan karakteristik dari kopi yang dicicipinya. Hal ini sangat penting khususnya bagi para barista yang baru berkecimpung di dunia kopi spesial. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi para penikmat kopi atau penyeduh rumahan, yang bisa dengan bebas memilih darimana negara asal kopi yang akan dibeli, proses pasca panen spesifik, dan juga roastery favorit yang cocok dengan selera mereka. Ketika seorang barista bekerja di sebuah kedai, mereka harus menerima akan jenis kopi apapun yang dipakai di kedai tersebut, suka ataupun tidak suka. Karena tugas barista adalah mengeluarkan potensi maksimal akan kopi yang diseduh.
Sedikit cerita mengenai pengalaman pribadi saya sendiri. Saya memiliki tingkat toleransi keasaman (acidity) yang rendah, sehingga saya kurang menyukai kopi yang memiliki karakteristik keasaman dengan intensitas menengah ke atas (medium to high). Sayangnya, keasaman adalah salah satu ciri khas dari kopi spesial, yang membuatnya berbeda dari kopi komersil. Awalnya agak sulit untuk menerima dan juga mempelajari mana jenis keasaman yang baik dan yang tidak. Namun saya pun harus beradaptasi, dengan cara mengesampingkan preferensi saya sendiri, tetap mencicipi kopi tersebut walaupun mungkin memiliki karateristik keasaman yang cukup tinggi dan mencari potensi yang terbaik yang bisa dikeluarkan oleh kopi tersebut. Terdengar mudah, tentu saja semua ini membutuhkan proses dan tidak sedikit kopi yang sudah saya cicipi, sehingga saya pun menjadi terbiasa.
Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah open minded dengan kopi yang ada di depanmu?