Underrated memiliki arti dianggap remeh akan nilai dan kepentingannya.
Hari ini saya memiliki pengalaman yang unik, di mana saya mendapat sebuah perspektif yang membuka mata saya mengenai komunitas kopi spesial, khususnya di Jakarta. Perspektif ini adalah dari kacamata seseorang yang berkecimpung di dunia chef dengan domisili yang sama. Dia berpendapat bahwa komunitas kopi spesial merupakan komunitas yang solid dibandingkan komunitas chef.
Ketika ditanya balik, memang bagaimana dengan komunitas chef? Ia berpendapat bahwa untuk mengenal satu chef dengan yang lainnya tidak semudah ketika barista berkenalan dengan barista dari kedai kopi lainnya. Ketika seorang chef bertandang atau makan di sebuah restoran sebagai pelanggan, tentu dia tidak bisa langsung berkenalan, ngobrol santai atau bahkan bertukar pikiran dengan chef yang bekerja di restoran tersebut. Karena tentunya ketika makan di sebuah restoran, seorang chef pasti harus bekerja di dapur. Jika memang ada waktu untuk ngobrol pun pasti akan sangat singkat sekali. Chef yang datang sebagai pelanggan ini pasti akan lebih banyak berinteraksi dengan pelayan atau front of the house dari restoran tersebut. Ini belum termasuk dengan biaya makanan dan minuman yang harus dibayarkan yang pastinya tidak akan murah.
Berbeda dengan konsep sebuah restoran, kedai kopi biasanya memiliki ambience dan workflow yang lebih intim antara pelanggan dan juga barista sebagai peracik minuman yang terkadang juga mencakup sebagai pelayan. Jembatan antara mereka berdua hanyalah segelas kopi yang bisa dibeli dengan harga sekitar empat puluh ribu rupiah saja dan sudah mendapatkan kenikmatan yang tidak ditemukan di kopi komersil. Tidak jarang pula ada bar seating area, yang membuat lebih dekat lagi jarak antara pelanggan dan juga barista, sehingga memudahkan mereka untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Hal yang sama bisa ditemukan ketika datang ke sebuah bar, duduk di bar seating area, dan berinteraksi dengan bartender yang meracik minuman. Namun tentunya harga minuman yang dijual di bar tidak akan semurah dengan kopi spesial.
Apa yang ingin saya sampaikan adalah how privilege we are (betapa beruntungnya kita) yang berkecimpung di dunia kebaristaan dan begitu mudahnya kita untuk berinteraksi antara barista dengan yang lain. Malah terkadang tidak menutup kemungkinan kita bisa berkenalan langsung dengan para senior, roaster, Q grader, pemilik kedai kopi dan para pakar di bidang yang lain, hanya melalui secangkir kopi. Bagi saya sekarang, kopi tidak hanya lagi sebagai affordable luxury, tetapi an underrated affordable luxury, thus it makes me proud somehow (sebuah kemewahan yang terjangkau yang diremehkan sehingga membuat saya menjadi bangga).
Bagaimana dengan kamu?
One reply on “Kopi, Segelas Kemewahan yang Underrated”
[…] dalam belajar mencicipi tak hanya terbatas dari lingkup kerja saja. Seperti saya yang tuliskan di blog sebelumnya, dari segelas kopi, bisa dengan mudahnya membangun sebuah hubungan baru, baik sesama […]
LikeLike