Categories
Barista

Kopi Bukan Lagi Minuman Identik dengan Pria

Sorry boys..Kini saatnya memberikan tempat dan juga tak menutup kemungkinan, lampu sorot kepada para wanita, khususnya sebagai barista.

Kenapa kopi identik dengan pria di Indonesia, baik penikmat maupun penyeduh? Saya sendiri belum mencari tahu lebih dalam tentang sejarahnya. Hitam, pekat, pahit, dan membuat otak aktif walaupun di saat malam. Mungkin karakteristik-karakteristik ini yang terkesan “sangat pria” yang membuat minuman ini identik dengan kaum adam.

Zaman pun berubah, kopi spesial pun naik daun. Kopi yang elegan, ringan bagaikan secangkir teh, wangi seperti bunga, manis tanpa ditambahkan gula, dan memiliki keasaman yang memberikan dimensi yang berbeda, adalah karakterisitik yang dicari-cari para penikmat kopi spesial. Karakteristik yang terkesan lebih “wanita”, bukan begitu? Malah tak jarang saya menemukan para penikmat kopi spesial dari golongan wanita yang tidak kalah banyaknya dari golongan pria.

Belum lagi dengan ditambah dengan munculnya varietas geisha/gesha, kopi yang sangat terkenal akan kelangkaannya, kualitasnya, dan tentunya harganya yang sangat mahal (kopi termahal di acara lelang Best of Panama 2020 dipegang oleh Finca Sophia seharga Rp. 42.900.000,-/kg untuk kopi beras gesha dengan proses washed). Nama varietas kopi ini sangat unik karena sama dengan sebutan untuk wanita penghibur di Jepang. Tak jarang membuat para markerters kopi spesial membuat gimmick marketing yang menyamakan kualitas kopi ini sama dengan keanggunan seorang wanita sehingga membuat orang awam semakin penasaran, senikmat apakah kopi gesha nan mahal itu.

Sebenarnya jika ditelaah lebih lanjut, deskripsi pekerjaan di kedai kopi bisa dibilang 80%-90% mirip seperti melakukan pekerjaan rumah, yang tentunya biasa dikerjakan oleh para wanita. Sebagian besar S.O.P.-nya pasti berkaitan dengan kegiatan membersihkan seperti: menyapu, mengepel, lap meja, mencuci piring, membuat minuman, dan juga makanan. Dengan tambahan kegiatan seperti melayani pelanggan, menyajikan makanan dan minuman ke pelanggan, melakukan kegiatan administrasi/keuangan, mencicipi dan membuat kopi tentunya.

Berdasarkan pengalaman, saya merasa bekerja dengan sesama wanita biasanya memiliki kinerja yang lebih rapi/resik dan telaten dibandingkan dengan pria. Wanita pun sebenarnya memiliki potensi yang lebih dibandingkan dengan pria karena memiliki indera pengecap dan penciuman yang lebih sensitif dibandingkan dengan pria. Dari sisi pelanggan pun, melihat wanita yang melayani mereka di kedai kopi seperti ada suasana dan pembawaan yang berbeda dibandingkan ketika pria yang melayani, dan tak jarang terkesan lebih “enak untuk dipandang”.

What I’m trying to say is..bukan berarti wanita lebih baik dibandingkan pria. Tetapi wanita juga memiliki kesempatan dan potensi yang tidak kalah dibandingkan dengan pria yang menurut saya sangat disayangkan jika tidak digunakan secara maksimal. Tentu saja dalam lingkungan bekerja, akan lebih baik jika pria dan wanita bekerja bersama saling melengkapi dalam suatu instansi, khususnya di kedai kopi.

Saya senang dengan melihat perkembangan kopi spesial beberapa tahun belakangan. Barista-barista wanita mulai bermunculan. Malah kadang ada kedai kopi yang barista nya hanya wanita saja. Hal ini menyatakan bahwa kemampuan wanita sebagai barista mulai diakui. Beberapa sosok kopi spesial Indonesia diwakilkan oleh wanita, khususnya di kota besar, baik sebagai instruktur, juri internasional, roaster, dsb. Saya berharap perkembangan ini tidak hanya berlaku di kota-kota besar saja, tetapi juga seluruh Indonesia.

Leave a comment