Disclaimer: tulisan ini dibuat dengan pengertian bahwa specialty coffee adalah there's no presence of bad things from processing, roasting, and brewing. Of course, it is not infused/co-fermented/etc. Dikonsumsi apa adanya, tanpa bahan tambahan lain. I'm old school, what can I say.
Bagi kalian yang baru berkenalan, menikmati, atau pun kepikiran ingin menyelami kopi spesialti, welcome! I won’t judge you bagaimana kalian bisa berasa di sini. Bagaimanapun kalian memulai, baik karena terinfluence via postingan di IG/TikTok, terjerat dengan brewing equipment yang terlalu cantik untuk tidak dikoleksi, belajar brewing dari youtube channel Jhon Christopher Fugol, terpana dengan gantengnya oppa Boram Um atau terbunga-bunga oleh Mikael Jasin, mendapatkan pengalaman baru minum kopi yang tidak seperti kopi pada umumnya atau malah sekedar penasaran. Semua dimulai dari rasa penasaran, don’t you think? Seperti saya sendiri.
I started from a coffee lover, pencinta kopi. Pecinta kopi, as in someone who drinks coffee because of its bitterness. Rasa pahit yang berhasil menemani dan membuat saya terbangun di malam hari di saat saya membutuhkannya selama bertahun-tahun. Sampai suatu ketika saya menemukan adanya coffee flavor wheel yang dibuat oleh Counter Culture, USA. Oh ternyata, kopi itu berbeda-beda flavornya, tidak hanya pahit. Kok bisa?
Ya, semua dimulai dari si lingkaran bulat warna-warni dengan kata-kata yang asing bagi saya untuk ditemukan di kopi yang saya minum hari-hari pada saat itu. Rasa penasaran membawa saya mulai bekerja sebagai barista kopi spesialti sampai akhirnya sekarang bekerja sebagai quality control di sebuah roastery. Specialty coffee yang dimulai dengan adanya komunitas-komunitas kecil tersebar di seluruh pelosok daerah di Indonesia, sampai akhirnya sekarang kita sudah memiliki beberapa pemegang piala dari World Coffee Championship. Saya percaya bahwa, specialty coffee tidak hanya menjadi besar di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Yes, it is progressing significantly. Artinya ini adalah hal yang bagus, bukan? Good news for everyone.
But then, ada pemikiran yang menghantui saya akhir-akhir ini, a huge realization. Setelah bekerja hampir 4 tahun di posisi ini, saya belajar & bertemu dengan berbagai macam orang, baik barista dan non barista, bagaimana pandangan (perspective) mereka, bagaimana mereka memperlakukan (treat), dan mencicipi (taste) kopi spesialti. Dari ini semua, saya berkonklusi bahwa orang kopi spesialti, or in this case, saya sendiri, is actually weird coffee people. Kita ini aneh atau tidak normal.
Saya sadar bahwa pada akhirnya kopi spesialti hanyalah kopi bagi, mungkin, 90% populasi di dunia. Dikonsumsi karena kandungan kafeinnya. To make them awake, energize. Persis seperti bagaimana saya tercantol kopi pada awalnya. Bahkan tahap untuk menyeduh kopi spesialti itu aneh: menimbang dose, yield, memastikan waktu ekstraksi, mengatur agitasi, menentukan air, menambahkan mineral di seduhan (?!), dll. Mencicipi, mencari dan mengkomunikasikan tasting notes. Semua tahapan melelahkan ini akan sia-sia pada akhirnya jika kita tidak mengerti perbedaan akan kopi yang satu dengan yang lainnya, khususnya di sisi peminum. Belum lagi kita membahas perbedaan pemilihan kata untuk mengkomunikasikan apa yang kita cicipi dengan Bahasa Inggris, yang bukan bahasa ibu dari kedua sisi. Oh, have we talked about cultural differences?
Thankfully, my specialty coffee battery is full again karena menjuri di World Barista Championship 2025, Milan. Bertemu dengan sesama teman juri, teman kopi dari Indonesia dan negeri lainnya, terinspirasi dengan presentasi para kompetitor dari berbagai negara. Beruntung bisa mencicipi apa yang mereka sajikan di panggung, yang pastinya merupakan hasil dari R&D yang panjang. Dan yang paling penting, bisa memakai bahasa komunikasi yang sama untuk mendeskripsikan apa yang kita temukan di kopi. Pertemuan dengan sesama di acara akbar ini membuat saya berpikir, maybe we are not so weird after all. It’s so soothing to me, sangat melegakan bagi saya.
Pada akhirnya, semua balik kepada para pembaca. Apakah kalian siap untuk menjadi si aneh jika kalian memang ingin menyelam lebih dalam di kopi spesialti atau kalian ingin menjadi sebagai pengamat saja, which is also fine. I like to use this weird label, as a reminder for me to stay grounded, untuk tidak selalu melihat dari atas. Kopi spesialti hanyalah kopi bagi kebanyakan orang. Dan kopi spesialti bukan untuk si lemah. Specialty coffee is not for the faint-hearted.