Ketika beranjak untuk pindah ke Qatar, bisa dibilang ada banyak hal-hal kecil yang tidak saya pikirkan. Saya hanya berpikir akan bekerja di luar dan tetap berkaitan dengan kopi. Pada saat itu sudah coba bertanya-tanya kepada teman yang sudah bekerja sebagai barista di kedai kopi spesial di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dari ceritanya, saya bisa konklusikan bahwa seharusnya perbedaannya tidak begitu jauh ketika bekerja di Jakarta, Indonesia, di samping dengan perbedaan budaya pelangganan lokal.
Namun setelah hampir dua tahun di sini, saya menemukan banyak perbedaan dan tentunya saya berharap bisa menjadi buah pikiran sebelum pembaca memutuskan untuk pindah ke luar negeri, khususnya ke Doha, atau negara Timur Tengah yang lain. Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari:
1. Biaya hidup yang lebih tinggi.
Alasan nomor satu mengapa orang tertarik untuk bekerja di luar adalah karena gaji yang mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan yang didapatkan sekarang di Indonesia. Namun perlu diingat kalau gaji lebih tinggi biasanya dikarenakan biaya hidup yang lebih tinggi. Contoh paling mudah adalah dengan perbandingan harga paket makanan McDonald yang berisi minuman, nasi, dan 2 potong ayam di Jakarta harganya Rp 51.500,- sedangkan di Doha, Qatar harganya 18 QAR (Qatari Riyal) atau setara dengan Rp 79.477,36. Berarti harga di Doha, lebih mahal sekitar Rp 28.000,-. Sedikit tambahan, menurut selera saya, ayam gorengnya tidak seenak dengan yang di Jakarta, begitu juga dengan merk tetangga: KFC.
2. Rekan kerja yang beragam.
Posisi barista di Jakarta, identik dengan umur pekerja yang masih muda, sekitar 20-30 tahun. Berbeda dengan kebanyakan orang yang bekerja di Doha pada umumnya adalah tenaga kerja imigran, seperti Filipina, India, Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan, Nepal, negara-negara di benua Afrika, Lebanon, Turki, Mesir, Albania, dll. dengan rentang usia yang tidak terbatas. Tidak aneh ketika kamu bekerja dengan orang sudah berumur 40 tahun dan di posisi barista.
Mengingat bahwa kebanyakan bahasa utama para imigran ini juga bukanlah bahasa Inggris, pastinya miskomunikasi sering terjadi. Belum lagi beradaptasi dengan budaya mereka yang juga berbeda dengan kita. Kabar baiknya adalah karena sesama tidak bisa bahasa Inggris, memakai bahasa “broken English” atau bahasa Inggris yang tidak baku, malah mereka lebih mengerti dibanding yang baku dengan sedikit bantuan bahasa tarzan/bahasa tubuh.
Karena mereka adalah tenaga kerja imigran, kemungkinannya besar kalau mereka bekerja sebagai barista memang hanya untuk bekerja saja, tidak tertarik dan biasanya kurang begitu mengerti akan apa itu kopi spesial.
4. Memulai kembali pertemanan dari nol.
Pindah ke negara baru, berarti harus siap dengan mencari teman lagi dari awal. Jika kamu bisa mendapatkan pekerjaan karena ajakan teman, that’s good for you, berarti kamu sudah memiliki satu teman di mana kamu akan bekerja. Berkaitan dengan poin sebelumnya, belum tentu teman kerjamu nanti tertarik akan kopi spesial, dan belum tentu teman kerjamu nanti berasal dari Indonesia juga. Apalagi barista Indonesia yang bekerja di Qatar hanya sangat sedikit jika kita bandingkan dengan negara asal seperti Filipina, Kenya, dan Nepal. Saatnya untuk aktif dalam mencari dan beradaptasi circle pertemanan yang baru.
5. Lokasi tempat kerja.
Seperti Indonesia, dengan begitu banyaknya daerah. Doha juga memiliki banyak kota besar dan kota kecilnya masing-masing. Apakah lokasi tempat kerja dan tempat tinggal nanti berada di Doha sebagai ibukota? Atau malah kota kecil di pinggiran, dengan populasi penduduk yang sedikit, yang memerlukan waktu 1 jam dengan mobil untuk sampai ke pusat kota?
6. Kedai kopi spesial?
Belum tentu tempat di mana kamu bekerja sebagai barista adalah sebuah kedai kopi spesial. Ya mungkin mereka menyajikan kopi, menggunakan mesin-mesin keluaran muktahir, tetapi kopi yang disajikan adalah dengan roastingan medium- dark, ataupun malah dark/commercial grade. Bisa juga sebaliknya, di mana mesin yang digunakan adalah mesin kopi komersil atau model yang masih “jadul” yang minim kemudahan pengaturan bagi baristanya, namun menggunakan kopi spesial. Hal-hal seperti ini merupakan hal yang lazim di sini.
7. Selamat tinggal makanan Indonesia.
Tidak ada lagi makanan khas Indonesia yang murah dan biasanya gampang kita temukan. Makanan khas Indonesia menjadi makanan yang tergolong mewah atau versi restoran, tidak ada lagi makanan kaki lima dan warung pinggir jalan. Di Doha, restoran masakan Indonesia hanya hitungan jari, tidak sampai 10 restoran. Harga makanannya kisaran 20 QAR atau sama dengan Rp 88,308.18 yang berarti lebih mahal dibandingkan paket McDonald yang kita sebutkan sebelumnya. Tentu saja makanan yang lebih banyak beredar adalah makanan khas Timur Tengah, Filipina, India dan Sri Lanka. Restoran Asia yang lain seperti Thailand, Vietnam, Cina, dan Jepang pun ada namun tidak banyak.
Sisi positifnya, mungkin kamu berpikir, ini adalah saat yang tepat untuk eksplor makanan khas dari negara lain. Namun bayangkan masa-masa ketika kamu menginginkan comfort food di hari yang melelahkan setelah bekerja, makanan dengan rasa yang sudah kamu kenal sejak kecil: sepiring nasi goreng gila, nasi uduk dengan ayam goreng, dan bakso beserta sambalnya yang nikmat dengan harga yang bersahabat. Makanan-makanan ini menjadi sulit untuk dijangkau.
Apakah ini saatnya untuk belajar masak masakan Indonesia sebelum beranjak pergi ke luar negeri?
8. Tidak ada lagi kemudahan berbelanja seperti toko hijau ataupun toko oren.
Aplikasi marketplace untuk berbelanja di sini belum semaju dan semudah di Indonesia, di mana apapun yang kita perlukan semuanya ada di aplikasi marketplace ini. Sejauh ini aplikasi berbelanja yang saya ketahui berpusat di luar negeri, seperti SHEIN, Temu, atau Amazon Dubai. Marketplace yang lumayan aktif di Doha adalah Facebook Marketplace. Bye-bye “Belanja Rp 0,- Bebas Ongkir”.
9. Tidak ada lagi kemudahan ojek online.
Namun untungnya di sini sudah tersedia transportasi umum seperti bus, bus shuttle untuk ke daerah yang lumayan jauh, Metro/Kereta, dan taksi online, seperti Uber.
10. Perbedaan cuaca.
Di sini cuaca dibagi menjadi 2 musim: musim panas dan musim dingin. Musim panas di sini bisa mencapai 45 derajat celcius dengan sinar matahari yang sangat terik, berbeda jenis panas yang berbeda dengan di Indonesia. Musim dingin di sini bisa mencapai 11 derajat celcius dan biasa dibarengi dengan angin kencang. Jam matahari terbit dan terbenam pun berbeda mengikuti musim.
Perkiraan cuaca di Doha tergolong akurat dan cuaca harian di sini berbeda setiap harinya. Terkadang ketika ada cuaca yang baik, seperti berangin sepoi dan sejuk, tidak begitu panas, atau cuaca yang buruk: berangin kencang baik ketika musim panas atau dingin, panas lembab, hujan deras, udara sangat kering, dsb.
Setelah tinggal di sini, sekarang saya mengerti kenapa orang bisa berkata cuaca yang baik atau tidak baik (good weather or bad weather) ketika tinggal di luar negeri. Berbeda dengan Indonesia dengan cuaca tropisnya yang konsisten, di mana pilihannya hanya ada dua, yaitu tidak hujan atau hujan, dan dengan perkiraan cuaca yang tidak bisa dipercaya sama sekali.
Masih ada banyak hal lain yang belum disebutkan di sini, seperti budaya komunikasi, bagaimana berinteraksi dengan orang lokal, dan lain sebagainya yang sebenarnya akan susah dibayangkan apabila belum terjun ke lapangannya langsung. Apakah kamu masih ingin bekerja di Doha, Qatar sebagai barista? Taal, Habibi/Habibti!
2 replies on “Apa yang Tidak Saya Ekspektasikan Ketika Bekerja di Doha, Qatar”
mungkin, ini bisa jadi poin sisi positif bekerja di Gulf Country yaitu minum kopi disana sudah menjadi culture buat mereka, dan salah satu chance buat mereka untuk bisa menikmati kopi special dengan berbagai informasi dan persuasif. Dan, satu hal lagi bkerja dan tinggal di gulf country bisa lebih aman dari segala tindakan kriminal.
CMIIW
LikeLike
Setuju..masih banyak hal positif yang lainnya juga. Semoga bisa dijadikan topik blog selanjutnya 😃
LikeLike