(Flat white) adalah sebuah kekeliruan, kesalahan penamaan, tidak lebih dari espresso dan susu yang di-steam dengan nama yang unik dan mudah diingat di mana sekarang para barista di kafe seluruh dunia harus meresponnya.
Michelman & Carlsen — The New Rules of Coffee, 2018
Akhirnya kita mencapai bagian terakhir dari pembahasan topik simple nan panjang ini. Sedikit cerita mengenai kutipan yang saya ambil di atas, saya tidak sengaja menemukan pembahasan mengenai flat white di dalam buku The New Rules of Coffee, padahal saya berencana untuk mencari pembahasan mengenai magic (don’t get me start with this one), karena ada yang memberikan pertanyaan mengenai hal tersebut di post instagram saya. Bagi yang tidak tahu, penulis buku ini adalah penemu website kopi spesialti terkemuka: sprudge.com. Menemukan kutipan ini merupakan sebuah eye opener bagi saya dalam menulis kesimpulan dari topik ini . Here’s why.
Saya suka memesan pasta carbonara jika berada di sebuah restoran Italia otentik. Walaupun saya tahu bahwa resep pasta carbonara adalah pasta dengan campuran telur yang dikocok, keju pecorino, lada hitam, dan guanciale, tapi saya yakin setiap restoran memiliki ciri khas sendiri akan pasta carbonara yang disajikan seperti mengganti keju pecorino dengan keju parmesan, atau mengganti guanciale dengan pancetta, dan lain sebagainya. Layaknya sebuah restoran yang memberikan twist atau keunikan sendiri akan makanan yang disajikan, begitu pula dengan kafe dalam menyajikan kopinya.
Persamaan resep cappuccino dari pengalaman saya selama bekerja di kafe dan juga deskripsi minuman tersebut menurut para penulis buku kopi adalah kopi susu dengan dengan menggunakan 1 shot espresso. Tetapi saya pernah menemui kafe-kafe yang menyajikan cappuccino nya dengan double ristretto espresso shot. Tidak sesuai dengan resep seharusnya bukan?
Saya juga pernah mencoba flat white secara langsung di negara yang disebut-sebut sebagai pencetusnya, yaitu Australia. Saya pernah mendapatkan flat white yang disajikan dengan double ristretto espresso shot dengan hampir tidak ada foam susu di gelas 7oz (+/- 210ml) dan flat white yang disajikan 1 shot espresso dengan foam susu yang tidak terlalu tebal ataupun tipis di gelas 5oz (+/- 150ml) di dua kafe yang berbeda. Bahkan di negara pencetusnya sendiri pun, terdapat perbedaan dalam penyajian flat white.
Bagaimana kita merespon perbedaan ini sebagai seorang barista?
Mudah. Be an open minded person. Resep di buku bukanlah sesuatu yang mutlak dalam dunia makanan dan minuman, tanpa terkecuali kopi.
Sebagai seorang barista yang profesional, penting untuk mengerti bahwa menu yang sudah dirancang sedemikian rupa di kafe tempatnya bekerja merupakan bagian dari konsep yang mau diusung dan menjadi identitas dari brand kafe tersebut. Sehingga jika resep untuk membuat cappuccino atau flat white berbeda dengan apa yang tertulis di buku kopi, itu bukanlah suatu kesalahan.
Namun penting juga sebagai barista untuk mengetahui menu kopi classic yang tidak ada di menu di kafe tempatnya bekerja (seperti contoh flat white yang terkenal di seluruh dunia ini), dan bagaimana cara membuatnya. Jika bingung apa yang dimaksud pelanggan dengan pesanan yang dia mau, buatlah sebisa mungkin. Jangan tanya kembali apa yang dia maksud, karena jujur saja terkadang pelanggan tidak mengerti apa yang biasa dia pesan. They just want coffee. That’s it. Jangan membuat menjadi riweh. Lalu tanya kembali ke pelanggan tersebut setelah selesai mengkonsumsi kopi tersebut, apakah sudah sesuai dengan yang dia maksud. Jika sudah sesuai, good for you. Jika tidak, maka tugas seorang barista adalah merekomendasi menu yang sudah ada di kafe yang kira-kira sesuai dengan keingingannya untuk dicoba di pesanan selanjutnya.
Oh…sulitnya menjadi barista.
I think that’s it for this topic. Apakah kamu sudah mengerti perbedaan dan persamaan cappuccino vs flat white? Semoga tulisan 3 bagian ini menambah pengetahuanmu even just a little.
G’day, mate!