Terinspirasi setelah bekerja selama hampir dua tahun sebagai Quality Control di Doha, Qatar. Saya dapat menarik konklusi bahwa hanya ada dua tipe barista yang bekerja di belakang mesin pada umumnya. Perlu diketahui bahwa tipe bisnis yang menyediakan kopi spesialti di sini bervariasi, bukan kedai kopi spesialti saja: restoran, bakery, kafeteria, dsb. Observasi saya selama di sini agak membukakan mata, seperti keluar dari safe zone dan melihat lapangan dunia F&B yang sebenarnya.
Tipe pertama adalah si barista non-taster. Barista non-taster bukan berarti mereka tidak minum kopi. Mereka memiliki dasar bagaimana membuat kopi, terkadang mengerti sedikit bagaimana mengkalibrasi mesin espresso dan grinder, namun mereka tidak mengerti beda hasil rasa espresso yang diekstraksi dengan waktu 35 detik dengan 20 detik atau yang diekstraksi dengan berat 30gram dengan 40gram. They just make and serve, mereka hanya membuat dan menyajikan. Terkadang mereka membuat berdasarkan standar resep yang sudah diberikan sebelumnya saja. Tidak menutup kemungkinan mereka tidak memperhatikan ekstraksinya sama sekali.
Tipe kedua adalah si barista taster. Barista memiliki dasar yang mendalam akan bagaimana mengkalibrasi mesin espresso dan grinder, sesuai dengan resep yang dia sudah dial sebelumnya karena dia bisa membedakan mana hasil seduhan yang baik dan tidak. Karena memiliki pengetahuan yang lebih ini, mereka akan menyajikan kopi berdasarkan hasil dialing-in nya. Secara idealnya, mereka bisa membedakan mana yang enak berdasarkan: intensitas rasa manis, asam, pahit dan juga taktil/tactile (berat, tekstur, dan rasa akhir/ aftertaste), mana yang enak menurut selera pribadi atau subjektif dan mana yang enak secara objektif. Namun, kembali lagi, mencicip/tasting bukan hal yang mudah. Bisa membedakan baik dan tidak sudah merupakan sebuah permulaan yang baik berdasarkan opini saya.
Tipe-tipe barista ini tidak terkategorikan di mana mereka bekerja. Terkadang saya bisa menemukan barista taster bukan di kedai kopi spesialti. Malah yang lebih saya sering temukan adalah kedai kopi spesialti, namun barista nya adalah non-taster.
Mungkin pembaca ada yang berpendapat, barista- barista ini memang tidak passion, hanya mengisi waktu luang saja dengan menjadi seorang barista. Menurut saya, passion is intangible, tidak terukur, tidak terlihat. Saya lebih suka membedakan berdasarkan non-taster atau taster. Lebih jelas berdasarkan aktivitas yang terlihat di depan mata. Atau malah, ya memang mereka tidak tertarik saja dengan dunia perkopian.
There’s no right or wrong, here. Tidak ada yang benar dan salah. Let’s face it, membuat kopi itu mudah, hanya sekedar memainkan mesin saja dan mengingat gerakan ketika membuat kopi filter. Menekan tombol-tombol di mesin grinder dan mesin kopi pun bisa jadi espresso. Menambahkan air panas ke kopi bubuk pun jadi kopi filter. Saya pun sekarang bisa berpendapat, dengan kacamata orang ketiga, kopi spesialti itu aneh dan ribet. Harus memperhatikan berat bubuk kopi, waktu, dan berat akhir. Namun yang perlu diingat adalah ketika kamu tidak mencicipi/tasting, you’re missing out the fun of it, kamu kehilangan banyak hal di kopi spesialti, apalagi ketika kamu bekerja di kedai kopi yang memang menyajikannya. Kopi spesialti berpusat kepada rasa/flavor. Hal ini yang membedakan kopi spesialti dengan kopi pada umumnya yang terkenal pahit saja. Memang ribet, but it’s all worth the taste, semuanya setimpal dengan rasanya.
So, barista yang manakah kamu? Non-taster or taster?