Categories
Juri Kompetisi Kopi

Menjadi Juri itu Tidak Selalu Fun

Menjadi seorang juri, apalagi juri kopi, terdengar “wow”. Terkesan memiliki privilege yang lebih. Terlihat apa yang dilakukan mudah dan tanpa perlu kerja keras, selama kompetisi berlangsung, di mana mereka hanya duduk/berdiri manis, melihat atau menyicipi, menulis sesuatu di kertas dan balik ke ruang juri. Persilakan saya untuk membagikan beberapa hal yang mungkin kalian tidak tahu, hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi selama menjuri kompetisi kopi:

  1. Terkadang kita mendapatkan ruang juri yang nyaman, terkadang tidak, seperti: minim penerangan, sempit sampai ruang gerak pun sangat minim, panas, lembab, ataupun terlalu dingin, seperti pengalaman saya di kompetisi nasional Arab Saudi.
  2. Harus datang di pagi hari, sebelum acara dimulai dan pulang paling terakhir. Bisa juga sampai diburu-buru oleh sekuriti agar segera keluar dari venue karena saatnya menutup gedung. Ini yang terjadi, fresh from World of Coffee Copenhagen, Denmark).
  3. Tidak sempat untuk keliling ke acara pameran yang sedang berlangsung jika kompetisi merupakan bagian dari pameran tersebut dan juga sesimpel untuk catch up dengan teman-teman kopi yang lain.
  4. Karena non-stop menjuri, sering kali kita tidak ada waktu khusus untuk menikmati makan siang. Di tengah-tengah deliberation atau proses penjurian di ruang juri, kita harus menyempatkan diri untuk sambil cemal-cemil jikalau sudah lapar. Setelah bebas tugas, barulah kita bisa makan dengan tenang.
  5. Bisa juga konsumsi telat datang ataupun makanan yang disediakan dapat mengganggu indera pengecap dan penciuman, seperti: makanan pedas, bawang-bawangan yang terlalu kuat, dsb. Sehingga juri harus pintar-pintar memilih makanan.
  6. Kita harus lari atau jalan cepat jika butuh ke toilet di sela-sela penjurian, apalagi kalau lokasi toilet dan ruang juri jauh, karena agenda kompetisi harus ditaati waktunya.
  7. Seburuk dan juga seeenak apapun kopi yang disajikan, juri harus tetap memberikan poker face dan senyuman ke peserta. Seburuk apa kah itu? Hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, semua bisa terjadi di kompetisi.
  8. Kopi-kopi eksotis nan mahal yang dibawakan oleh para peserta, yang seringkali terdengar menggiurkan oleh para penonton tidak bisa kita nikmati sepenuhnya layaknya ketika kita berkunjung ke sebuah kafe dan menikmatinya dengan atmosfir yang mendukung. Assessing is not the same as enjoying.
  9. Menjuri memerlukan tingkat fokus yang ekstra: memperhatikan, menyicip, menulis, menyatakan secara objektif apa yang dirasakan atau ditangkap selama kompetisi berlangsung. Semua dalam hitungan menit, tentu saja tidak mudah. Setelah turun dari panggung, proses deliberasi masih berlanjut di ruang juri.
  10. Juri juga diharuskan untuk menulis dengan tulisan yang rapi agar bisa dibaca dengan jelas, karena scoresheet itu adalah untuk dibaca para kompetitor. Karena kita menjuri memang untuk mendukung mereka, para barista.
  11. Menjuri kompetisi, apalagi kompetisi national atau tingkat world adalah volunteering work, atau sukarela. Biaya transportasi dan akomodasi harus ditanggung sendiri. Harus meninggalkan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari untuk menjuri yang biasanya bisa sampai berhari-hari, dari pagi sampai malam.
  12. Siap untuk menjadi juri panggilan alias diminta untuk sukarela menjuri dalam waktu yang sangat singkat. 3 hari sebelum kompetisi? No problem! (Tambahan 6 Desember 2024).

Dari semua poin-poin di atas, pilihan favorit saya adalah nomor 8. Ketika menjuri, khususnya untuk juri sensory, yang mereka lakukan adalah menyicipi minimum dua kali sip/teguk saja dari setiap minuman yang disajikan. Dari cicipan itu, mereka harus menjelaskan secara objektif attributes yang ada di cup tersebut dan menulisnya secara jelas di kertas. Are we enjoying it? Yes,maybe. Untuk waktu yang sangat singkat karena harus lanjut mengisi scoresheet dengan rapi.

Dengan begitu banyaknya hal-hal yang tidak menyenangkan ini, mungkin kalian menjadi bertanya-tanya, “Jikalau memang tidak fun, mengapa penulis mau menjadi juri kopi?”

Leave a comment