Categories
Kopi Spesialti Qatar

Menjawab Surat Pembaca

Pada tanggal 23 Februari, saya bertanya kepada para pembaca via IG Stories, lemparan ide atau inspirasi untuk tulisan blog terbaru. Saya membutuhkan bensin tambahan untuk membuat saya mau menulis lagi di tengah kondisi dan environment yang uninspiring, lingkungan tidak memberikan saya inspirasi ini. Menarik saya untuk bergerak dari nyamannya dunia analog yang tidak bising: menulis dan membaca buku; untuk menjalin koneksi kembali di dunia daring, di mana orang-orang kopi, para pembaca blog ini berada. Di sisi yang lain, saya juga teringat akan harusnya giving back to the specialty coffee community yang sudah mendukung saya baik langsung dan tidak langsung, for the continuation of the community itself. Semoga tulisan ini menjawab sebagian pertanyaan para pembaca. Sisanya akan saya kreasikan untuk tulisan selanjutnya.


Qatar dan Kopinya

Februari, berarti saatnya kita berada di musim semi. Hari ini cuaca berada di suhu 26 derajat celcius di suhu tertinggi, terendah di angka 15 derajat celcius. Rasa dingin terasa di pagi hari dan sore hari. Siang hari, sinar matahari mulai mencolok, persiapan untuk musim panas di beberapa bulan ke depan. Musim semi identik dengan aktivitas outdoor: piknik di malam hari khususnya di taman, area gurun, pergi ke tempat-tempat kece atau terbaru untuk ngopi, acara-acara bazaar, semuanya menjadi serba aktif. Mungkin sebagai “pembalasan” akan minimnya aktivitas di musim panas. Musim panas di sini bisa mencapai 45 derajat celcius. Orang-orang pun menjadi ogah untuk keluar, kecuali ke mal dengan ac nya yang sangat dingin, outdoor mal dengan ac outdoor juga tentunya, atau malah keluar dari Qatar sekalian untuk summer vacation, menghindari panas yang tidak kira-kira di sini.

Di bulan Ramadan ini, kafe-kafe dan bisnis F&B yang lain tidak menerima walk in. Jam operasional toko biasa dimulai dari jam 5 sore sampai subuh sekitar jam 1-2 subuh. Setelah iftar, mereka akan keluar, hangout ke kafe bersama teman dan keluarga, sembari menikmati udara yang masih bersahabat selagi ada. Apapun itu musimnya, minum kopi selalu menjadi bagian dar kehidupan sehari-hari.

Coffee is literally life for them. Kopi merupakan hidup bagi orang-orang di Qatar, dan saya percaya berlaku untuk negara timur tengah lainnya. Kopi di pagi hari, siang hari, malam hari, untuk minuman kece, untuk kebutuhan kafein, untuk perayaan pernikahan, kumpul-kumpul dengan teman atau saudara, dan lain sebagainya. Berbagai macam kedai kopi ada untuk memenuhi kebutuhan kopi para pelanggan. Dari toko ruko kecil, yang hanya menjual kopi, sweets dan sandwich untuk drive thru saja, sampai dengan kedai kopi di daerah fancy dengan konsep yang mirip dengan speakeasy bar: dim lighting, aesthetic interior, dengan pilihan kopi-kopi exotic. Just like Indonesians, atau bahkan orang-orang pada umumnya, kopi manis akan selalu menjadi pilihan utama.

“Enaknya tinggal/kerja di Qatar.”

Sebuah pernyataan yang sempat ramai di algorithm Threads saya (Lish? Why?). Entah siapa yang memulai opini ini, saya pun tidak tertarik untuk mencari tahu. Apakah saya sependapat? Jika menggunakan skor 1-9, dengan 1 sangat tidak setuju, 9 sangat setuju, untuk sekarang saya berada di 5, netral. Saya sudah pernah membahas hal-hal tidak nyaman yang di luar ekspektasi di tahun 2023 dan 2024. Semua tulisan ini pun masih relevan sampai sekarang. Malah harusnya saya juga harusnya menambahkan kalau negara ini terdampak akan panasnya perang politik dunia yang belum kelar sampai sekarang. Now that…is something that never happened in Jakarta. Different kind of panic dan kewaspadaan. Happened twice, terjadi dua kali pula. Apakah akan terjadi lagi? Tentu tidak menutup kemungkinan.


Kalau kata Google, populasi Qatar di sekitar 3,2 juta, dengan populasi ibukotanya, Doha, berada di 673 ribu orang. Jika kita bandingkan dengan populasi di DKI Jakarta, ada sebanyak 11 juta orang. Sedangkan penduduk lokal Qatar atau biasa disebut sebagai Qatari berada di sekitar 10% dari total populasi. Sisa 90% nya berarti diaspora dari negara lain. Saya akui bahwa the fact that saya masih bekerja di negara kecil dengan populasi minim ini sampai sekarang, berarti there’s something that works here untuk saya dan tidak ada di Jakarta, Indonesia.

Bekerja hari-hari di sini ada tantangannya tersendiri, every day is a challenge in itself. Hidup, berinteraksi dan sebatas bersinggungan dengan diaspora yang didominasi oleh Filipina, India, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Bangladesh dan negara-negara Arab yang lain: Mesir, Lebanon, Moroko, Siria, Tunisia, dll. Diaspora Indonesia di Doha sedikit sekali karena working visa yang sulit untuk didapat. Menjadi kelompok diaspora minoritas di tengah-tengah yang lain mengharuskan kita untuk cepat dan harus bisa beradaptasi karena tidak ada bantalan di mana kita bisa kabur. Di saat yang bersamaan membuat saya menjadi lebih merefleksikan diri, tidak hanya sebagai diri saya sendiri, tetapi juga berdasarkan darimana saya berasal, sang Ibu Pertiwi.

Komunitas Kopi Spesialti Doha

Di tulisan sebelumnya, saya pernah menuliskan bahwa specialty coffee is special, khusus, berbeda. Kita adalah kumpulan orang aneh yang mengulik kopi. Kopi secara umum adalah hidup di sini, but how about the specialty coffee development ? Bagaimana perkembangan industri kopi spesialti di Qatar? How advanced is it? Seberapa maju perkembangannya? Saya mengajak pembaca untuk mencoba mencari Past Ranking Qatar di World Brewers Cup, Latte Art, & Cup Tasters di dua tahun terakir, jika kalian penasaran. Lalu bandingkan dengan achievement Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Seharusnya pembaca bisa menarik kesimpulannya sendiri ketika membandingkan hasilnya. Saya percaya bahwa urutan ranking mencerminkan bagaimana perkembangan komunitas spesialti kopi, tingkat kualitas competition body (pihak yang memegang license untuk mengadakan World Coffee Championship Competition) / negara yang diwakilkan.

Now, What’s Next?

Hampir satu dekade lebih berada di industri kopi spesialti, saya belajar bahwa specialty coffee is not only a trend, wave, dll. Kopi spesialti juga adalah sebuah komunitas. Komunitas yang sangat besar di dunia, where everyone knows everyone, semuanya kenal satu sama lain. Komunitas kopi spesialti di Indonesia juga adalah komunitas yang juga sangat besar. Ketika kita melihat bahwa, kita semua ini, para pelaku/stakeholder kopi spesialti di Indonesia adalah suatu komunitas besar, kita mendapatkan sebuah pandangan yang berbeda.

Apa yang membuat kopi spesialti menarik bukan hanya produknya, ke-instagenic-kannya, alat-alat menyeduh terkini, sertifikasi SCA/WCC/CQI, tapi yang lebih mengesankan dan yang sebenarnya dicari adalah koneksinya, connection between the people. Dan yang saya percaya bahwa komunitas kopi spesialti Indonesia sangatlah terjalin dengan baik, despite of all negative things. This connection, yang tidak ada di Doha, Qatar. Tentu kita harus berhati-hati, karena ketika kita membicarakan komunitas, biasanya kita menjadi tidak fokus akan diri sendiri, menjadi FOMO, dan mencari validasi. Kalau ini adalah saya, saya akan pergunakan keunggulan ini, and I think I have done it while still in Indo. Berkoneksi, to get to know more dengan pelanggan, dengan sesama barista, sesama roaster, sesama pelaku kopi di event kopi, dll. Go out of the comfort zone, keluar dari zona nyaman, and see where it takes you. Kopi spesialti lebih enjoyable untuk dinikmati ketika kita menikmatinya dengan orang lain.

Leave a comment