Broken English..malah lebih membantu dan lebih mudah dimengerti…
Time flies. Tidak terasa saya sudah bekerja di Qatar selama setahun. Ini merupakan pertama kali saya bekerja di luar negeri dan saya belajar sangat banyak hal. Tinggal di salah satu negara timur tengah yang, jujur, saya tidak tahu akan eksistensinya sebelumnya (geografi saya memang kurang bagus, maka dari itu saya mengambil jurusan IPA ketika SMA). Kali ini saya ingin coba share apa yang saya pelajari secara general, berdasarkan observasi dan juga pengalaman. Semoga tulisan singkat ini bisa membantu bagi pembaca yang memang ingin bekerja di luar negeri, khususnya di negara Timur Tengah, baik sebagai barista maupun bagi yang bekerja non barista.
1. Kamu merasa Bahasa Inggris-mu terbatas?
Atau tidak memiliki grammar yang baik? Saran saya jangan takut dan tetap percaya diri dalam menggunakannya. Untungnya di Qatar, beserta negara Timur Tengah yang lain, menggunakan bahasa Arab untuk kesehariannya. Artinya Bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu mereka. Tidak aneh ketika ada saja orang lokal yang Bahasa Inggrisnya juga tidak begitu lancar.
Begitu juga dengan para imigran dari negara lain yang bekerja di sini, masih banyak yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
Saya sering bertemu dengan imigran yang bahasa inggrisnya terbatas di sini. Biasanya masih bercampur dengan logat bahasa ibunya dan jujur terkadang sulit mengerti apa yang mereka ingin utarakan. Namun mereka masih tetap percaya diri, dan saya pun masih tetap mencoba mendengar apa yang dia coba sampaikan.
Malah terkadang memakai bahasa Inggris yang baik dan benar pun tidak menjadi solusi. Broken English atau Bahasa Inggris tanpa tata bahasa yang baik malah lebih membantu dan lebih mudah dimengerti bagi mereka. True story.
Anggap saja kesempatan ini sebagai salah satu cara untuk belajar Bahasa Inggris untuk lebih baik lagi. Sedikit tips dari saya adalah tidak perlu gugup dan berbicara saja pelan-pelan, agar apa yang disampaikan dapat diucapkan dengan baik.
2. Tentu saja jika bahasa ibunya saja berbeda, poin kedua ini tidak terelakan: miskomunikasi akan sering terjadi. Bayangkan ketika kita yang memiliki bahasa yang sama pun terkadang masih bisa terjadi miskomunikasi, apalagi yang bahasa ibu nya berbeda. Sehingga jangan lupa untuk menanyakan suatu hal jika memang tidak jelas.
3. Siapkan dirimu akan culture shock, baik di tempat bekerja, dan juga masyarakat pada umumnya. You will meet a lot of new people from around the world. Apalagi di Qatar di mana 70% populasinya adalah imigran. Sebuah contoh kebudayaan masyarakat di sini pada umumnya adalah mereka cenderung menggunakan voice note dan telepon untuk berkomunikasi. Jarang sekali via chat. Mungkin hal ini disebabkan karena lagi-lagi keterbatasan Bahasa Inggris, khususnya dalam menulis. Contoh yang lain dalam hal makanan adalah di sini tidak menyajikan saus sambal/chili sauce sebagai tambahan/condiment di restoran pada umumnya, termasuk Fast Food Restaurant seperti McDonalds, KFC, dll. Hanya ada saus tomat dan saus mayones. Berita sangat buruk bagi yang tidak bisa makan tanpa rasa pedas.
Tidak seperti Indonesia, hari suci di Qatar (dan sepertinya negara timur tengah yang lain kecuali UAE) adalah hari Jumat, bukan Sabtu ataupun Minggu. Jadi hari Kamis malam adalah “malam minggu” bagi penduduk di sini. Hari Jumat tentunya ada Sholat Jumat, sehingga aktivitas pada umumnya ditunda dari jam 11 sampai dengan 1 siang, seperti toko-toko di mal akan tutup. Hari Sabtu aktivitas kembali dimulai seperti biasa dan bagi yang bekerja di pemerintahan, mereka masih libur kerja. Aktivitas sepenuhnya di mulai di Hari Minggu.
4. Dengan banyaknya bertemu dengan orang dari negara lain, tentu saja saatnya kamu untuk belajar adaptasi lebih baik lagi. Semudah belajar bahasa lokal dan bahasa dari negara lain. Pelajari kata-kata seperti : terima kasih, tolong, maaf, halo dan lain sebagainya. Tentunya jangan lupa untuk mencoba makanan khas dari negara lain juga. Who knows ternyata kalian suka makanan dari negara yang tidak kalian sangka sebelumnya. Seperti saya dengan masakan khas Sri Lanka, yang bisa dibilang sangat berbumbu dan pedas. Satu-satunya jenis masakan yang menyajikan sambal di setiap makanannya. Lumayan bisa memuaskan ketika rindu akan masakan Indonesia, khususnya masakan Padang.
Saya ingin menutup tulisan singkat ini dengan opini saya sendiri bahwa at the end yang menjadi fondasi ini semua adalah positive attitude. Karena inilah yang akan membawamu jauh ke depannya. Karakter positif seperti ramah, sopan, full of anticipation, berinisiatif, memiliki rasa hormat, mau belajar dan berkembang ditambah dengan sedikit senyuman ketika bertemu orang lain tidak akan pernah salah.
P.S.: Sewaktu-waktu tulisan ini mungkin saya update lagi dengan contoh-contoh yang berkaitan dengan poin-poin di atas agar lebih relatable lagi.