“Excuse me, what you have for V60?”
“We have Ethiopia, Kenya, Colombia. I recommend the Ethiopia, it’s floral and fruity.”
“Hmm..I want Iced Spanish Latte.”
Apakah percakapan ini terdengar tidak asing jika diterjemahkan menjadi Bahasa Indonesia? Tinggal kita ganti kata “Spanish Latte” menjadi “Kopi Susu Gula Aren”. Voila! Dan betul sekali, keduanya memiliki persamaan. Kopi. Susu. Manis. Relatable enough?
Contoh percakapan di atas adalah makanan sehari-hari barista kopi spesialti kebanyakan di Qatar, atau mungkin bisa dibilang di negara-negara Timur Tengah lainnya, seperti: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Mereka memiliki nasib yang kurang lebih sama dengan apa yang kamu alami di mana pun kamu berada di Indonesia. Jika ditanya, apa best seller menu di kedai kopi spesialti di Qatar? Spanish Latte lah jawabannya. Let me introduce to you, kopi susu gula aren versi Timur Tengah ini.
Apa itu Spanish Latte ? Spanish Latte adalah minuman dengan berbahan dasar espresso, susu segar dan susu kental manis. Spanish Latte mirip dengan Kopi Vietnam yang berbahan dasar kopi robusta yang diseduh dengan phin, dan ditambah dengan susu kental manis. Cara penyajiannya pun sama, bisa panas ataupun dingin. Namun belum ada kejelasan yang pasti apakah Spanish Latte berasal dari Spanyol, tidak sama dengan Kopi Vietnam yang memang sebuah minuman tradisional. Lalu untuk harga jual Spanish Latte, biasa memiliki harga lebih mahal dibandingkan menu kopi klasik, seperti cappuccino dan latte. Kebalikannya dengan kopi susu gula aren yang biasanya dijual dengan harga yang lebih murah di Indonesia.
Bagaimana Spanish Latte bisa menjadi menu yang sangat terkenal di Timur Tengah? Berdasarkan sumber yang saya baca, bisa ditarik kesimpulan bahwa Spanish Latte lahir sebagai menu kreasi kopi spesialti, “menu perkenalan” kepada masyarakat Timur Tengah yang pada umumnya belum terbiasa mengkonsumsi kopi (spesialti) apa adanya, tanpa ditambah gula ataupun sirup perasa. Kita selalu berpikir bahwa orang Indonesia suka dengan rasa manis. Guess what? Masyarakat Timur Tengah sangat menyukai rasa manis. Malah, rasa manis mengindikasikan kebahagiaan, sesuatu yang positif dalam kebudayaan mereka. Jika kita membicarakan kebudayaan, apalagi direlasikan dengan nilai positif, tentu menjadi suatu tantangan yang lebih sulit lagi untuk ditanggulangi dalam memperkenalkan kopi spesialti di Timur Tengah ini.
Jujur, saya sangat tidak menyangka bahwa akan ada minuman manis, layaknya es kopi susu gula aren di Indonesia ketika sampai di Qatar. Menggelitik, namun begitulah faktanya. Tantangan yang tidak akan pernah selesai, di berbagai penjuru negeri, dalam memperkenalkan kopi yang memang identik dengan rasa pahit, yang tentunya biasanya “ditutupi” dengan rasa manis, rasa universal yang disukai semua orang.