Membuat kopi, melayani tamu, mengantarkan makanan dan minuman, membersihkan area operasional adalah rutinitas yang sudah kamu dilakukan berkali-kali. Mungkin kamu sudah mulai bosan dan ingin melakukan suatu hal yang baru. Dunia kopi spesial masih terlihat begitu luas bagimu dan kamu ingin melakukan eksplorasi lebih lagi. Atau mungkin kamu hanya ingin meningkatkan jenjang karirmu. Lalu kamu pun melirik orang lain yang bekerja menjadi roaster, atau malah mungkin memiliki usaha roastery sendiri. Kamu pun mulai berpikir, apakah ini saatnya untuk menjadi roaster? Bukankah memang itu jalur karir selanjutnya setelah menjadi barista?
Eits, tunggu dulu. Ada baiknya sebelum kamu menyemplungkan diri ke dunia roasting lebih lanjut, ada baiknya kamu membaca tulisan singkat ini sebagai bahan pertimbangan. Karena dunia roasting kopi sangatlah berbeda dengan keseharianmu menjadi seorang barista.
Ketika kamu menjadi seorang roaster atau mungkin memiliki roastery sendiri, sebenarnya kamu bekerja di sebuah tipe usaha yang berbeda dengan kedai kopi yang kegiatan utamanya adalah menjamu tamu-tamu penikmat kopi. Kegiatan utama roastery adalah produksi dan tentunya sekaligus penjualan kopi sangrai. Istilah kata roastery hanyalah sebuah dapur saja, tanpa ada restorannya. Tidak akan ada lagi tamu yang sehari-hari yang harus kamu jamu, yang mencari segelas es kopi susu gula aren lalu nongkrong berjam-jam di roastery-mu nanti, di mana pun itu.
Ya, roastery adalah dapur, tapi yang dimasak hanyalah biji kopi saja. Peralatan-peralatannya pun simple, misal: mesin roasting, green bean yang akan disangrai, sample roaster dan laptop untuk mencatat proses sangrai. Area untuk melakukan tasting akan hasil sangrai, yang terdiri dari meja, teko pemanas air, cupping spoon, cupping bowl, grinder, peralatan untuk seduh manual, dan mesin espresso single grouphead. Tidak lupa akan area packing kopi yang sudah disangrai dan mungkin juga sekaligus area administrasi untuk pencatatan.
Pertanyaan-pertanyaan seperti: apa konsep dari roastery-mu? Biji kopi apa yang akan kamu roasting? Apakah lokal saja? Atau akan ada kopi dari manca negeri ? Darimana kamu akan membeli green bean? Berapa banyak yang akan kamu beli? Espresso roast profile, filter roast profile, atau omni roast profile ? Ke mana kamu akan supply kopi-kopi tersebut? Bagaimana cara roasting yang sesuai agar kamu bisa mengeluarkan potensi dari kopi itu? Semua ini akan muncul jika kamu ingin memulai usaha roastery sendiri.
Jika kamu bekerja sebagai roaster, tanggung jawab utama-mu adalah tak lain dan tak bukan roasting dan tasting. Tanggung jawab lain yang sudah pasti tidak akan terelakan adalah menjaga kebersihan dan maintenance mesin roasting, menjaga kebersihan area roasting, dan mungkin juga kamu harus sekaligus yang melakukan packing kopi-kopi tersebut.
Terkesan mudah, hanya roasting dan tasting. Namun di sinilah tantangannya. Setelah disangrai, tentu saja kamu harus melakukan tasting, untuk mengecek apakah kopi yang sudah kamu sangrai ini sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Jika tidak, apa yang harus kamu lakukan di proses sangrai selanjutnya? Bagaimana komentar para klien akan hasil kopi sangrai-mu? Istilah-istilah dalam dunia roasting seperti moisture, density, drying phase, browning/Maillard reaction, roast development, drum RPM, airflow, roast time, roasting temperature akan menjadi makananmu sehari-hari. Mesin roasting pun menjadi teman kerjamu senantiasa.
Dari penjabaran singkat ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia roastery dan kebaristaan sangatlah berbeda. Apakah menjadi roaster adalah jenjang karir selanjutnya setelah menjadi barista berpengalaman? Jawabannya adalah tidak. Dikarenakan tanggung jawab yang kontras, produksi (roaster) dan kombinasi antara service & product knowledge (barista). Kabar baiknya adalah ketika kamu menjadi seorang roaster, tidak semua yang kamu pelajari di dunia kebaristaan akan menjadi sia-sia. I believe that tidak semua orang akan cocok dengan tuntutan pekerjaan seorang roaster yang bisa dibilang membutuhkan tingkat fokus yang tinggi dan rutinitas yang lebih repititif lagi dibandingkan rutinitas seorang barista. Pada akhirnya pun kembali kepada dirimu sendiri, apakah kamu siap untuk menjadi seorang roaster?