Setelah pertama kali diadakannya Indonesia Coffee in Good Spirits pada tahun 2021 lalu, awal tahun baru ini diawali dengan perlombaan roasting atau menyangrai kopi, Indonesia Coffee Roasting Championship 2022 (ICRC ’22) berdasarkan Rules & Regulation dari World Coffee Events, sebuah organisasi manajemen acara internasional yang ditemukan oleh Specialty Coffee Association. Ide awal diadakannya lomba ini diinisiasi dari Pak Michael Utama, Wakil Ketua SCAI, bersama dengan Andrew Tandra, sebagai Kompartemen Hilir SCAI bagian roaster, dibantu dengan Reyner Oswald Herbert, dari Kompartemen Edukasi SCAI bagian barista. Hiro Lesmana sebagai Kompartemen Hilir SCAI bagian barista juga turut serta sebagai venue manager dan saya sendiri sebagai Kompartemen Edukasi SCAI bagian juri bertugas sebagai koordinator juri dan perlombaan selama kompetisi berlangsung. Kompetisi ini seharusnya dilaksanakan pada tanggal 5-9 Juli 2021 lalu. Namun karena diberlakukannya PPKM darurat dari pemerintah, maka lomba ini pun tertunda.
Lomba ini adalah lomba yang sangat berbeda dibandingkan lomba kebaristaan yang selama ini pernah diadakan, karena lomba ini benar-benar menguji akan pengetahuan peserta sebagai roaster. Dimulai dari penggunaan berbagai alat bantu sebelum menyangrai kopi, mesin sample roaster, mesin roasting, pengetahuan akan green beans, bagaimana menyangrai berbagai jenis green beans, dan tidak lupa akan pengetahuan bagaimana mendeskripsikan kopi pun diuji selama 5 hari di kompetisi ini. Lomba ini mungkin terlihat membosankan bagi para penonton awam yang belum paham bagaimana cara menyangrai kopi. Karena memang lomba ini sangatlah teknis akan seputaran dunia menyangrai kopi.
Berdasarkan pengalaman saya pribadi, lomba ini adalah lomba terlama yang pernah dijalankan. Dimulai dari tanggal 15 Januari yaitu Judge Workshop, dan gladi resik lomba pada tanggal 16 Januari. Kompetisi dimulai dari tanggal 17 Januari sampai dengan 21 Januari. Perlombaan ini tidak ada babak penyisihan. Dari total 12 peserta yang ikut serta, langsung ditentukan siapa juara 1 sampai juara 3. Selama 5 hari ini ada beberapa babak yang harus dilalui oleh peserta sebelum pada akhirnya, peserta dapat menunjukan keahliannya dalam menyangrai kopi. Berikut penjabarannya:
1. Lab practice: peserta memiliki waktu selama 1 jam, untuk latihan menggunakan alat-alat untuk mengukur warna kopi yang sudah di sangrai (menentukan angka agtron), green coffee screen size, kelembapan, massa jenis dan mesin sample roast yang disediakan untuk perlombaan.
2. Green grading: peserta harus mendeskripsikan green beans yang diberikan berdasarkan warna, aroma, kelembapan, ukuran, dan menentukan apakah kopi tersebut memiliki cacat atau tidak.
3. Sample roasting kopi kompetisi: peserta memiliki waktu yang terbatas untuk melakukan sample roast 4 jenis kopi yang akan dipakai untuk babak production roasting (menyangrai kopi dalam kapasitas besar yang akan dinilai cita rasanya oleh para juri).
4. Open Cupping: Selanjutnya, peserta dapat menyicip kopi yang baru saja disangrai, untuk diuji cita rasanya.
5. Production Roast Practice : Peserta berkesempatan untuk berlatih menggunakan mesin roasting yang akan dipakai untuk babak terakhir.
6. Production Roast: Babak terakhir yang harus dilalui oleh peserta dengan menyangrai kopi untuk kategori single origin (menggunakan 1 jenis kopi) dan blend (menggunakan 3 jenis kopi yang lalu dijadikan satu).
Kenapa prosedur lomba ini berlangsung berhari-hari? Dikarenakan setiap babak yang disebutkan di atas memakan waktu yang tidak singkat. Setiap babak memerlukan waktu minimal 30menit. Ditambah lagi, kopi yang sudah disangrai di tahap production roast harus diistirahatkan terlebih dahulu minimum 8 jam agar optimal sebelum dinilai oleh para juri.
Tidak hanya memakan waktu yang lama. Masih ada banyak sekali tantangan dalam lomba roasting ini, baik bagi panitia acara maupun bagi para pesertanya. Dari sisi panitia acara, karena lomba dengan format seperti ini baru pertama kali diadakan, maka kita tidak memiliki gambaran bagaimana alur kompetisi ini harusnya berjalan, hanya berdasarkan dari peraturan yang sudah tercatat dan juga bimbingan dari WCE Representative, yaitu Hendri Kurniawan. Panitia acara juga harus menyiapkan semua kebutuhan lomba bagi peserta selama acara berlangsung, yaitu: mesin roasting, sample roaster, pemanas air, catatan manual (manual logging), alat pengukur agtron, kelembapan dan massa jenis, green coffee screen size. Tidak hanya itu, panitia acara harus mengerti bagaimana cara mengoperasikan mesin roasting yang digunakan, menyiapkan kebutuhan green beans untuk latihan dan juga kompetisi. Khusus untuk lomba ini panitia acara jauh lebih sibuk menyiapkan semua kebutuhan pertandingan dibandingkan dengan peserta bahkan juga jurinya.
Dari sisi peserta, tantangan yang harus dihadapi adalah peserta baru mengetahui semua jenis kopi yang dipakai untuk kompetisi pada hari pertama. Belum lagi jika mereka sebelumnya belum pernah menggunakan mesin roasting yang digunakan pada saat lomba. Setiap mesin roasting tentunya memiliki karakterisiknya masing-masing. Namun di balik semua tantangan ini, salah satu hal positif bagi peserta lomba roasting dibandingkan lomba kebaristaan adalah mereka hanya perlu membawa badan dan alat tulis selama lomba berlangsung. Nice, right?
Setelah melalui lomba yang panjang ini, tentunya ada imbalan yang setimpal bagi pemenang dari ICRC’22. Dia berkesempatan untuk melanjutkan sepak terjangnya di tingkat internasional, World Coffee Roasting Championship 2022 di Warsaw, Polandia bulan Juni mendatang. Salah satu hal yang perlu diketahui juga bahwa slot peserta di tingkat dunia pun terbatas dikarenakan prosedurnya yang lama ini. Tentunya harapan dari panitia acara adalah Wisnu Aji, juara 1 ICRC’22, dapat menggunakan kesempatan berharga ini semaksimal mungkin.
Semoga untuk ke depannya, lomba roasting dengan Rules & Regulations World Coffee Event ini dapat berlangsung lagi di tahun-tahun selanjutnya, tidak hanya berhenti di tahun pertamanya saja. Tentu saja semoga perlombaan roasting dengan skala kecil mulai menjamur layaknya lomba brewing dan membuat latte art di berbagai daerah, sebagai alat uji bagi para roaster akan keahliannya dalam menyangrai kopi.