Categories
Barista

Dialing-in Dilemma

Pernahkah kalian merasa susah sekali untuk mencari resep espresso di pagi hari sebelum memulai jam operasional toko? Belum lagi jika kalian shift opening sendiri tanpa ada teman kerja yang lain. Atau malah teman kerja kalian di shift tersebut adalah seorang part timer yang jarang atau tidak mengerti sama sekali mengenai kopi?

Seperti di blog yang saya sudah tulis sebelumnya mengenai dialing in, menjadi suatu syarat atau S.O.P. sebuah coffee shop yang menyajikan kopi spesial untuk mencari resep yang sesuai. Resep di hari sebelumnya belum tentu cocok untuk beberapa hari ke depan, malah tidak aneh ketika resep yang sudah dipakai di pagi hari akan berubah untuk di siang hari. Ada beberapa coffee shop yang menggunakan refractometer sebagai alat pengukur dan standar untuk mencari resep kopi. Tetapi masih banyak coffee shop yang masih menggunakan indera pencicip dari barista tersebut sebagai acuan, sehingga bisa dibilang tidak ada standar yang pasti. Mungkin biasanya untuk mencari resep tidaklah susah karena sudah ada resep sebelumnya, atau berdasarkan pengalaman akan dialing in kopi tersebut.

Namun terkadang ada saat di mana merasa kopi yang biasa kita cicipi berubah rasanya, dan sudah banyak kopi yang sudah kita buang selama proses pencobaan karena tidak cocok dengan standar. Beberapa faktor yang tidak disangka pun terjadi, seperti: kita sedang kurang sehat untuk mencicipi kopi, tidak fokus bekerja karena sedang ada masalah, atau disebabkan oleh faktor teknis yaitu air yang tidak bisa kita ketahui secara langsung bagaimana kandungan mineralnya pada saat itu, yang tentu saja sangat mempengaruhi rasa di kopi.

Dari pengalaman saya sendiri pun sampai sekarang terkadang juga mengalami kebingungan ini, apakah resep yang saya pakai ini sudah yang paling maksimal atau belum. Tentu sebagai barista kita ingin menyajikan yang terbaik bagi pelanggan kita.

Berdasarkan pengalaman saya, berikut tips dan solusi yang mungkin dapat membantu kalian jika mengalami hal yang saya sebutkan di atas:

1. Ketika kamu bingung apakah resep kopi ini sudah pas atau belum. Tanya kepada diri kamu sendiri: apakah kamu mau menghabiskan kopi tersebut? Sudah mencicipi satu teguk, lanjut ke yang kedua. Apakah kamu mau melanjutkan yang ketiga atau secara instingtif kamu sudah menghabiskannya? Jika kamu menjawab iya, maka kamu sudah mendapatkan resepnya. Jika jawabannya adalah tidak, maka saatnya mencari resep yang lain.

2. Jika kamu sedang shift berdua dengan temanmu yang awam akan kopi, berikan kopi dengan resep tersebut kepadanya dan tanya pendapatnya, apakah kopi ini menurutnya enak? Jika ia setuju enak, mungkin pencarian resep bisa dituntaskan di sini. Karena terkadang pendapat orang awam ini bisa disamakan dengan pelanggan pada umumnya dan dapat memberikan perspektif yang berbeda dari sisi orang yang mengerti kopi dengan penikmat kopi saja.

Akhir kata, terkadang kita sebagai barista terlalu banyak berpikir ketika membuat kopi dan akhirnya malah mengeruhkan pemikiran kita ketika harus mengambil keputusan. Mungkin kita hanya perlu percaya kepada badan kita sendiri atau yang biasa orang sebut sebagai muscle memory yang sudah kita latih dari pengalaman sebelumnya. Perspektif yang berbeda dari orang awam juga sangat membantu dalam pengambilan keputusan dan malah mungkin bisa mengajari teman kita bagaimana cara menikmati kopi dengan baik sehingga bisa menjadi teman berdiskusi di kemudian hari.

One reply on “Dialing-in Dilemma”

Leave a comment