Categories
Barista

Pentingnya “Teman Minum Kopi”

Sebuah opini. Layaknya seperti anak kecil yang perlu diajari hal-hal baru oleh orang tuanya, menurut saya belajar mencicipi kopi tidak ada bedanya.

Teman minum kopi. Tak hanya sekedar teman minum kopi untuk nongkrong bersama, tetapi teman minum kopi yang bisa memberikan pengetahuan dan wawasan akan kopi spesial, khususnya dalam belajar mencicipi. Selama 6 tahun berada di dunia kopi, menurut saya, teman untuk berdiskusi sangatlah penting dalam belajar mencicipi kopi.

Sedikit cerita, saya pernah minum kopi seduh manual di sebuah kedai kopi. Kebetulan saya duduk cukup dekat dengan area bar. Setelah kopi pesanan saya disajikan, saya mencicipi kopi tersebut. Rasa yang saya dapatkan adalah rasa caramel dan dark chocolate. Lalu secara tidak sengaja saya mendengar pembicaraan barista yang membuat kopi saya dengan temannya, “Gue sih dapet peach.”

Memang di bungkus kopi yang saya pesan, salah satu karakteristik kopi yang ditulis adalah peach. Saya tidak mengatakan apa yang saya dapatkan 100% benar, karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda akan rasa. Namun dark chocolate dan peach adalah jelas spektrum rasa yang jauh berbeda. Saya menyayangkan bahwa barista-barista ini tidak mengerti akan bagaimana cara mencicipi kopi secara objektif. Mungkin saja mereka tidak memiliki orang yang bisa dijadikan patokan untuk kalibrasi, dan kurangnya pengetahuan akan bagaimana mencicipi kopi.

Dari kejadian inilah, saya menjadi lebih memperhatikan lagi dan menganalisa. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa teman minum kopi untuk belajar mencicipi sangatlah penting. Tentu saja teman minum kopi ini akan lebih baik jika yang sudah berpengalaman dan mengerti akan rasa-rasa kopi. Biasanya mereka memiliki kosakata yang mungkin saja tidak diketahui sebelumnya atau malah memberikan suatu persepsi baru yang selama ini kita bingung bagaimana menjelaskannya. Namun juga tidak jarang kita bisa menemukan persepsi baru dari orang yang mungkin baru mulai belajar mencicipi kopi.

Mungkin muncul pertanyaan kenapa saya menulisnya sebagai teman minum kopi. Bukan secara spesifik mentor atau senior barista di tempat kerja? Karena menurut saya, dalam belajar mencicipi tak hanya terbatas dari lingkup kerja saja. Seperti saya yang tuliskan di blog sebelumnya, dari segelas kopi, bisa dengan mudahnya membangun sebuah hubungan baru, baik sesama barista dari kedai kopi yang berbeda, dari barista ke pelanggannya atau pun sebagai sesama penikmat kopi.

One reply on “Pentingnya “Teman Minum Kopi””

[…] Hampir satu dekade lebih berada di industri kopi spesialti, saya belajar bahwa specialty coffee is not only a trend, wave, dll. Kopi spesialti juga adalah sebuah komunitas. Komunitas yang sangat besar di dunia, where everyone knows everyone, semuanya kenal satu sama lain. Komunitas kopi spesialti di Indonesia juga adalah komunitas yang juga sangat besar. Ketika kita melihat bahwa, kita semua ini, para pelaku/stakeholder kopi spesialti di Indonesia adalah suatu komunitas besar, kita mendapatkan sebuah pandangan yang berbeda. Apa yang membuat kopi spesialti menarik bukan hanya produknya, ke-instagenic-kannya, alat-alat menyeduh terkini, sertifikasi SCA/WCC/CQI, tapi yang lebih mengesankan dan yang sebenarnya dicari adalah koneksinya, connection between the people. Dan yang saya percaya bahwa komunitas kopi spesialti Indonesia sangatlah terjalin dengan baik, despite of all negative things. This connection, yang tidak ada di Doha, Qatar. Tentu kita harus berhati-hati, karena ketika kita membicarakan komunitas, biasanya kita menjadi tidak fokus akan diri sendiri, menjadi FOMO, dan mencari validasi. Kalau ini adalah saya, saya akan pergunakan keunggulan ini, and I think I have done it while still in Indo. Berkoneksi, to get to know more dengan pelanggan, dengan sesama barista, sesama roaster, sesama pelaku kopi di event kopi, dll. Go out of the comfort zone, keluar dari zona nyaman, and see where it takes you. Kopi spesialti lebih enjoyable untuk dinikmati ketika kita menikmatinya dengan orang lain. […]

Like

Leave a comment