Saya akan mulai dari pengalaman saya bekerja di Starbucks. Jikalau saya tidak salah ingat, cappuccino merupakan salah satu menu kopi susu yang ditawarkan di menu board selain caffe latte. Menu kopi susu lainnya seperti ristretto bianco dan flat white tidak dipajang di menu board mereka. Hanya pelanggan tertentu yang mengetahui mengenai menu-menu klasik ini. Sehingga selama saya bekerja di Starbucks, jarang sekali saya berkesempatan untuk membuat flat white. Tetapi antara cappuccino dan flat white memiliki standard recipe yang berbeda, yaitu cappuccino memiliki foam susu yang lebih tebal dibandingkan flat white. Sedangkan flat white memiliki espresso shot yang lebih banyak dibandingkan cappuccino.
Selanjutnya di tempat bekerja saya yang kedua, yaitu Turning Point Coffee, dengan jelas mengadakan cappuccino dan flat white di menu mereka. Membawa Melbourne/Australian style coffee shop, mereka pun mengikuti cara penyajian kedua minuman ini ke kafe mereka. Cappuccino dan flat white memiliki jumlah espresso shot yang sama, jumlah susu yang sama dan ketebalan foam susu yang sama (tidak terlalu tebal dan tipis). Hanya saja yang membedakan menu cappuccino akan ditambahkan bubuk coklat di atasnya, sehingga akan memberikan sedikit rasa pahit di kopi susu tersebut.
Di tempat kerja saya yang terakhir, Spotten/Sositi Coffee Bar, tidak mengadakan menu flat white, hanya ada cappuccino saja. Sehingga ketika ada pelanggan yang request untuk dibuatkan flat white, kami akan menanyakan terlebih dahulu flat white yang dimaksud seperti apa. Apakah kopi susu dengan kopi yang lebih berasa, atau yang dimaksud dengan flat white adalah kopi susu dengan foam yang tipis. Jika yang dimaksud adalah kopi susu dengan kopi yang lebih berasa, maka kami akan merekomendasikan menu kami yang lain yaitu magic karena berbahan dasar double ristretto espresso shot dibandingkan dengan cappuccino kami yang hanya menggunakan 1 espresso shot saja. Namun jika yang dimaksud adalah foam susu yang lebih tipis, maka kami akan membuatkan cappuccino kami dengan foam susu yang lebih tipis.
Tujuan kami menanyakan kembali flat white yang dimaksud adalah agar kami dapat membuat produk sesuai dengan preferensi pelanggan dengan harapan mereka akan satisfied. Namun ternyata cara seperti ini bukanlah suatu cara yang cocok bagi setiap pelanggan. Saya akan membahas lebih lanjut pengalaman saya berkaitan dengan hal ini di bagian ketiga.
Dari ketiga kafe ini, tidak ada satu pun yang memiliki cara membuat minuman cappuccino & flat white yang sama. Menurut saya, semuanya benar walaupun berbeda-beda. Sebuah kafe pasti memiliki cara atau racikannya sendiri sehingga membuatnya unik antara satu dengan yang lainnya.
Karena hal inilah, saya harus back to basic, yaitu belajar kembali. Sebenarnya, apa sih definisi dari kedua minuman ini? Kalau mengingat zaman ketika sedang membuat skripsi, harus ada dasar teori yang menjadi fondasi untuk penulisan skripsi tersebut. Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama untuk topik ini agar pembahasannya pun akan menjadi lebih kredibel. Simple, yet an interesting and extensive topic, right?
3 replies on “Cappuccino vs Flat White (part 1)”
Tipis bedanya yaa… Pantes banyak yg sering salah paham… Flat white dibilang lebih “susu”
LikeLike
[…] akan mencari definisi dari kedua jenis minuman ini. Sesuai dengan rencana awal yang saya tulis di bagian pertama dari Cappuccino vs Flat White, saya akan menggunakan 3 buku kopi dengan penulis yang sudah dikenal di industri kopi […]
LikeLike
[…] resep cappuccino dari pengalaman saya selama bekerja di kafe dan juga deskripsi minuman tersebut menurut para penulis buku kopi adalah kopi susu dengan dengan […]
LikeLike