Jika memang transparansi menjadi abu-abu dan inovasi semakin berkembang, saatnya konsumen pun menjadi lebih kritis dengan apa yang kita pilih dan minum.
Saya suka snack Pocky, khususnya yang rasa cokelat dan varian dengan campuran kacang almond. Snack berasal dari Jepang ini juga memiliki varian limited buah-buahan seperti blueberry, durian, markisa, melon, dan lain sebagainya. Sebagai fans Pocky, saya suka mengeksplorasi rasa-rasa yang diproduksi dengan terbatas ini karena berbeda dari biasanya. Ketika memakan Pocky dengan rasa buah-buahan, impresi pertama yang sangat kentara adalah aroma buatan/artificial orthonasal (melalui hidung) & retronasal (melalui mulut) yang sangat tinggi intensitasnya. Sangat intens, sampai melebihi wangi buah asli yang diwakili rasanya. Ini adalah karakter yang biasa ditemukan dalam makanan minuman komersil, karena sebuah pengetahuan umum bahwa makanan minuman komersil masal ini dibuat dengan tambahan perisa buatan/artificial.
Kenapa saya mulai dengan membahas mengenai Pocky ? Karena menurut saya, karakteristik kopi infused & co-fermented yang sedang trend dan banyak ditemukan di pasaran, baik di Indonesia maupun Qatar, atau malah mungkin kita bisa bilang secara internasional, memiliki karakteristik yang sama dengan Pocky rasa buah-buahan yang saya bahas di awal: aroma dan rasa buatan yang intens.
Demi tujuan penulisan kali ini, saya akan menyebut kopi infused & co-fermented ini sebagai “kopi dengan (tambahan) sesuatu”. Saya belajar istilah ini dari seorang Authorized SCA Trainer (AST), Shaun Ong. Beliau menyebut kopi-kopi ini dengan sebutan “coffee with stuff”, yang menurut saya masuk di akal. Karena kopi-kopi ini memang pasti ada tambahan sesuatu, sehingga bisa mengeluarkan aroma dan rasa yang begitu jelas. Saya juga tidak berencana untuk membahas lebih lanjut penjelasan teknis apa itu kopi infused & co-fermented di tulisan ini.
Sedikit deskripsi bagaimana karakteristik “kopi dengan sesuatu“, jika pembaca belum pernah mencoba. Dimulai dari tahap green coffee/sebelum disangrai, ia sudah memiliki wangi spesifik yang sangat mencolok, misalkan wangi melon. Ketika sudah disangrai, wangi ini tetap masih ada. Sampai ke hasil seduhan rasa melon ini akan sangat kentara di hirupan aroma dan juga di rasa ketika kita meminumnya. Karena flavor melon yang terus menerus ada ini, salah satu tasting notes untuk kopi ini pun dengan gampangnya ditulis sebagai “melon”.
Berbeda dengan proses pasca panen tradisional seperti natural, washed, semi washed. Jika kita membandingkan tasting notes yang tertera dengan apa yang kita cicipi, terkadang tidaklah sejelas “kopi dengan sesuatu”, apalagi buat pemula. Karena “kemudahan” mendeteksi aroma dan rasa/flavor inilah memberikan suatu pengalaman yang baru dan “pencapaian” tersendiri untuk si peminum.
Topik pembahasan yang ingin saya soroti adalah apa yang sebenarnya terjadi seputar “kopi dengan sesuatu”, yang berdampak pada nilai-nilai budaya kopi spesial dan juga pengaruhnya terhadap kesehatan.
Minim Transparansi & Informasi
Saya sering menemukan “kopi dengan sesuatu” ini dengan informasi proses pasca panen yang tidak sesuai, menamakannya dengan proses pasca panen tradisional (natural, semi washed). Tidak jarang juga ketika kita menanyakan ke barista yang menyajikan kopi tersebut, mereka akan bilang, “Ini bukan “kopi dengan sesuatu”, kok!” Entah mereka berkata jujur atau tidak. Mungkin karena produsen kopi-nya yang tidak transparan. Tidak menutup kemungkinan juga karena roastery-nya yang tidak transparan. Lalu, memang kenapa kalau tidak transparan ?
Pertama kali saya mencicipi “kopi dengan sesuatu” di tahun 2018. Pada waktu itu, “kopi dengan sesuatu” ini masih terbatas dan belum banyak dijual. Karena masih baru, proses pasca panen yang tertera pun masih transparan. Pengalaman yang menarik memang, pertama kali minum dan mengetahui akan adanya “kopi dengan sesuatu”, namun saya ingat bahwa saya merasa aroma dan rasanya terlalu mencolok nan aneh. Apalagi jika dibandingkan dengan pasca panen tradisional.
Menurut saya, masalah menjadi muncul untuk generasi baru penikmat kopi spesialti yang tidak bisa membedakan “kopi dengan sesuatu” dan yang bukan. Karena tidak ada edukasi dan juga transparansi. Pernah saya minum “kopi dengan sesuatu” bersama dengan seorang pemula, dan lagi-lagi tidak ada informasi yang jelas mengenai kopi ini. Saya pun bertanya, “Tapi anda tahu kan kalau ini adalah kopi dengan sesuatu? “Ah tidak, ini alami kok.” Dan ia pun lanjut menikmati kopi tersebut sampai habis dan tetap percaya akan opininya.
Selama ini komunitas kopi spesialti berjalan atas transparansi dan kepercayaan akan apa yang sebenarnya terjadi di perkebunan kopi dan proses pasca panen yang dilakukan. Selanjutnya roastery dan barista mengedukasi ke penikmat akan kopi yang disajikan. Jika kita melihat contoh kasus di atas, nilai-nilai inti yang sudah menjadi budaya dari komunitas kopi spesialti menjadi hilang. Dan sebenarnya masih ada masalah yang lebih besar lagi karena tidak adanya transparansi ini.
Dampak Negatif terhadap Kesehatan
Tahun 2025, sekitar bulan September dan Oktober adalah masa di mana saya belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh teman-teman kopi, bahwa “kopi dengan sesuatu” tidak selamanya memberikan suatu pengalaman yang menarik dan aman untuk dikonsumsi. Ternyata kopi ini dapat memberikan dampak negatif ke kesehatan peminum. Mereka bercerita adanya gejala seperti diare, susah bernafas, dan sakit kepala setelah minum “kopi dengan sesuatu”. Malah ada teman saya yang minum beberapa teguk, tapi tetap pada akhirnya masih mengalami diare. Uniknya malah teman-teman kopi ini adalah orang yang sudah lama menjadi peminum kopi spesialti, bukan orang pemula. Saya tidak ingin menuduh bahwa semua “kopi dengan sesuatu” pasti akan memberikan dampak negatif ke kesehatan karena setiap orang pasti memiliki ambang batas dan ketahanan tubuh yang berbeda. Namun mendengar kemungkinan akan efeknya ke kesehatan, bukankah saatnya kita berpikir dua kali ketika hendak minum “kopi dengan sesuatu” ini?Apalagi saya tidak pernah menyangka kalau kombinasi akan minimnya transparansi dan juga dampaknya ke kesehatan akan muncul di depan mata saya dan baru saja terjadi beberapa hari belakangan.
Pada tanggal 25 Juli kemarin, teman saya baru saja mengalami suatu gejala yang sangat parah, di mana dia diare, kram perut dan asam lambung meningkat yang tidak wajar. Setelah ditelaah lebih lanjut, dia sangat yakin bahwa gejala ini disebabkan oleh kopi yang ditawarkan oleh temannya yang baru saja membuka sebuah roastery. Informasi kopi yang tertera untuk kopi yang diminumnya padahal proses pasca panen natural. Dia bercerita bahwa rasa kopi yang disajikan sangat manis sampai-sampai tidak berasa minum kopi sama sekali, mirip dengan “kopi dengan sesuatu” yang pernah diminumnya tahun lalu. Ia pun sampai menanyakan kepada pemilik roastery ini dan dijawablah bahwa proses pasca panen kopi ini alami, tidak ada tambahan perasa. Teman saya pun percaya dan menghabiskan kopinya. Gejala-gejala yang dialaminya tidak hilang selama seharian lebih. Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk berobat ke dokter dan memberikan dia obat anti-fungal/jamur untuknya.
Sudah 8 tahun dari pertama kali saya minum “kopi dengan sesuatu“. Sepertinya, kopi ini akan terus ada dan pasti akan ada terobosan terbaru dengan metode penambahannya. Sembari saya menulis ini, “kopi dengan sesuatu” sebenarnya sudah ada marketnya tersendiri. Jika memang transparansi menjadi abu-abu dan “cara penambahan” semakin bermacam-macam, saatnya konsumen pun menjadi lebih kritis dengan apa yang kita pilih dan minum. Ketika meminum kopi tersebut, transparan atau tidak, kalian sudah merasa terganggu dengan wangi yang terlalu intens yang tidak wajar dan tidak nyaman untuk mengkonsumsi lebih lanjut, ini menunjukan bahwa otak kita menolak kopi tersebut untuk masuk ke tubuh kita. Kita harus lebih sadar dan percaya lagi akan sinyal-sinyal alami dari tubuh.
Akhir kata, saya tidak pikir panjang ketika mengkonsumsi Pocky dengan rasa buah-buahan. Karena bahan tambahan untuk Pocky ini dan juga makanan minuman komersil lainnya dibuat dengan tambahan perisa buatan/artificial yang aman bagi konsumennya. Ketika kita harus lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi “kopi dengan sesuatu”, bukankah lebih baik jika kita minum kopi yang kita tambahkan sendiri dengan sirup flavoring buah-buahan, yang sudah pasti aman bagi tubuh? Hmm..kombinasi kopi dan sirup flavoring, terdengar familiar?