Categories
Barista

Apa yang Saya Pelajari dalam Menjuri Lomba Manual Brew Throwdown

Beberapa minggu lalu, saya memiliki kesempatan untuk menjadi juri di lomba Manual Brew Throwdown, pada acara Kopi Craft Indonesia yang diselenggarakan di Summarecon Mall Serpong. Sesuai dengan namanya, lomba ini adalah perlombaan menyeduh kopi secara manual dan setelah kopi selesai diseduh, kopi langsung dicicipi dan dipilih pemenangnya oleh juri, tidak menggunakan kertas penilaian (scoresheet). Bagi yang masih awam dengan sistem throwdown, berikut penjelasan singkatnya:

1. Tiga peserta langsung maju secara bersamaan untuk bertanding di area panggung yang sudah disiapkan untuk bertanding. Peserta diberi waktu persiapan lalu dilanjutkan dengan waktu menyeduh kopi selama pertandingan berlangsung.

2. Hasil kopi yang diseduh oleh para peserta ini akan dinilai oleh para juri dengan cara blind tasting, artinya juri tidak melihat proses menyeduh yang terjadi di panggung, sehingga tidak tahu peserta mana yang menyeduh kopi yang akan dinilai, agar juri dapat menilai kopi secara objektif.

3. Setelah para juri mencicipi tiga kopi tersebut, juri akan menunjuk kopi mana yang menurutnya yang paling baik, sesuai dengan pilihannya sendiri secara bersamaan, sehingga tidak ada diskusi yang dilakukan sebelumnya.

4. Kopi yang paling banyak ditunjuk oleh para juri akan lanjut ke babak selanjutnya. Begitu seterusnya sampai di babak final.

Perlombaan ini sangat menarik karena semua peserta yang maju memiliki alat-alat menyeduh yang sama dari penggiling kopi manual, alat seduh, kertas penyaring, teko pemanas air, dan juga air. Kopi yang digunakan juga sama dari awal pertandingan hingga akhir, yaitu kopi Toraja Sapan dengan medium roast. Perbedaannya adalah resep yang dipakai oleh peserta itu sendiri. Ditambah lagi peserta baru mengetahui alat seduh yang akan dipakai di pertandingan dengan sistem undian sebelum maju. Menarik bukan? Tidak hanya keahlian, pengalaman, tetapi menurut saya keberuntungan juga sangat penting dalam pertandingan ini.

Tujuan saya menulis blog ini adalah berbagi pengalaman akan apa yang saya dapat dari mencicipi kopi dengan berbagai alat seduh. Berikut adalah alat seduh manual yang digunakan pada saat kompetisi beserta dengan penjelasan karakteristik hasil seduhan yang saya dapatkan jika kopi tersebut diseduh secara maksimal, tentunya menurut pengamatan saya sendiri:

1. Kalita Wave 185 dengan memakai kertas saring wave Brewista : kecenderungan memiliki medium sweetness, medium to low acidity, medium to low bitterness, medium weight, medium texture, dan juga memiliki kecenderungan well balanced cup.

2. Hario V60 02 berbahan plastik dengan kertas Hario V60 02 berwarna putih: kecenderungan memiliki low sweetness, medium to high acidity, medium to high bitterness, long bitter aftertaste, medium weight, rough or sharp texture.

3. Aeropress merk Aerobie dengan kertas penyaring bawaannya: kecenderungan memiliki medium sweetness, medium to low acidity, medium to high bitterness, high intensity and muddled flavor, medium weight, medium texture.

Berdasarkan pengalaman yang saya tulis di atas, secara pribadi saya lebih menyukai hasil kopi yang diseduh menggunakan Kalita Wave 185 di pertandingan ini, karena dapat menghasilkan rasa yang lebih manis dan well balanced cup dibandingkan alat seduh yang lain. Hasil seduhan dengan Hario V60 memberikan tingkat acidity yang lebih tinggi. Sedangkan Aeropress memberikan rasa kopi yang lebih intense tetapi juga tidak memiliki flavor clarity yang baik.

Sekian hasil pengamatan saya. Konklusi dari tulisan ini saya balikkan kepada para pembaca, khususnya bagi yang suka menyeduh, apa yang bisa dipelajari dari tulisan saya ini.

Leave a comment