Categories
Barista Hospitality

Cappuccino dengan 1 sendok teh gula merah? Kenapa tidak?

Sebuah perspektif.

I’m not keeping up with the update now, but back in the days, menambahkan gula ke kopi spesialti yang kita sajikan ke pelanggan terkesan sangat salah. Memang setiap hari kita harus dengan susah payah mencari resep kopi yang sesuai di hari itu dengan semua variabel yang ada (faktor manusia,keadaan air, waktu resting kopi, suhu ruangan, dan masih banyak variabel yang lain) agar ketika disajikan ke pelanggan, kopi tersebut sudah manis karena campuran yang pas antara manis susu dan juga manis espresso, dan harmonisasi keduanya sehingga tidak perlu ditambahkan gula lagi.

Menurut saya, terkadang kita terlalu fokus dengan nilai yang kita pegang di kopi spesialti sampai kita lupa akan pelanggan kita sendiri yang pastinya memiliki pengalaman serta selera yang berbeda dengan kita yang memang setiap harinya meminum bergelas-gelas kopi, dari espresso hingga kopi seduh manual.

As simple as, pelanggan tidak sama dengan barista.

Let me share sedikit pengalaman saya mengenai hal ini.

Di tempat saya bekerja, ada satu pelanggan yang hampir setiap hari membeli cappuccino dari awal kafe buka hingga sekarang. Dia suka cappuccino-nya ditambahkan langung 1 sendok teh gula merah agar sedikit manis. Karena sering bertemu, saya mencoba segala cara agar beliau tidak menambahkan gula lagi ke kopinya dengan harapan agar beliau mengerti perbedaan kopi yang kami sajikan (kopi spesialti).

Saya pernah mencoba menawarkan house blend espresso kami yang akan memiliki flavor kopi yang lebih ringan jika dicampur dengan susu sehingga dengan harapan beliau tidak perlu menambahkan gula lagi ke kopinya, namun tidak cocok dengan seleranya. Pernah juga saya memintanya untuk mencoba dulu kopinya sebelum ditambahkan gula ternyata tidak bisa, masih terlalu pahit menurutnya.

Pelan-pelan saya mencoba agar beliau mau mengurangi banyaknya gula yang ditambahkan. Dari 1 sendok teh, lalu ditakar gulanya menjadi persis 5 gram, berkurang menjadi 2.5 gram, sampai sekarang akhirnya berhenti di 1 gram saja. Kopi tanpa gula merupakan sesuatu yang tidak mungkin menurut beliau dan saya menghormati pendapat dan juga seleranya.

Menurut saya, pengurangan gula yang ditambahkan ke minumannya sudah merupakan kepuasan bagi saya sendiri. Setidaknya beliau secara tidak sadar bisa merasakan perbedaan kopi yang saya sajikan dibandingkan dengan yang lain. Tentu saya masih memiliki ego sebagai seorang barista, ingin menunjukan kopi spesialti berbeda dengan kopi yang beredar di pasaran.

“Tidak perlu tambahan gula sudah enak loh!”

Tetapi pada akhirnya, selama beliau bisa menikmati cappuccino yang disajikan and she is happy with it, I think that’s good enough for me.


Sedikit tambahan, sebelum saya publish blog ini, saya menyempatkan mencoba apa yang sebenarnya beliau rasakan ketika minum cappuccino ditambah dengan 1 gram gula merah. Hasilnya adalah rasa manisnya tidak begitu terasa, malah seperti meminum cappuccino tanpa gula. Berarti bisa dikatakan sebenarnya beliau hanya memiliki perspektif yang tidak bisa diganggu gugat bahwa minum kopi harus dengan gula. Mungkin kalau saya berakting bahwa saya menambahkan gula ke kopinya, padahal tidak, mungkin beliau tetap bisa menghabiskan cappuccino-nya seperti biasa. Ini hanya sebuah pengandaian, namun menarik bukan? ☺️

Leave a comment