Saya jenuh karena PSBB yang diberlakukan oleh pemerintah mengurangi dinamika hari-hari saya sebagai barista. Pelanggan yang biasanya meramaikan kafe mau tidak mau harus di rumah aja. Semuanya sedang beradaptasi dengan kehidupan normal yang baru.
Tetapi sebenarnya saya juga jenuh dengan industri kopi. Sensasi yang saya rasakan ketika pertama kali berada di industri ini sudah menurun. Memang inovasi masih berkembang di industri ini, dari proses pasca panen eksperimental, hingga berbagai macam alat seduh manual yang makin unik. Saya saja sudah tidak mengikuti lagi perkembangan coffee shop yang mungkin sudah sampai ribuan di Jabodetabek sendiri. Mungkin kesalahan ada di diri saya yg memiliki pandangan seperti ini.
Karena itulah saya ingin mencoba melakukan sesuatu hal yang berbeda dari rutinitas saya sehari-hari, mencoba untuk menulis. Saya suka membaca namun saya tidak terbiasa untuk menulis, apalagi dalam bahasa ibu. Bisa dibilang ini adalah suatu tantangan bagi saya sendiri.
Ide untuk menulis ini muncul ketika saya berdialog dengan Maria Anastasia dan Kak Dian dari Philocoffee untuk podcast Bincang Kopi. Ide yang muncul adalah untuk menulis sebuah buku. Ide yang menarik, namun buku tentang apa?
Saya suka membaca buku di mana sang penulis berbagi pengalaman hidupnya, sehingga saya bisa merelasikan atau bisa juga mengaplikasikan apa yang dia bagikan ke dalam kehidupan saya langsung. Lalu saya berpikir, kenapa tidak saya menulis tentang kebaristaan? Saya sudah berkecimpung di profesi ini sejak tahun 2014 sampai sekarang. Saya berpikir saya cukup terpercaya dalam membagikan pengalaman saya, ya bukan?
Membuat sebuah buku dengan tulisan saya sendiri adalah tujuan akhir dari penulisan blog ini. Biarlah saya berlatih menulis sambil mengisi kekosongan hari-hari saya, mungkin juga hari-hari kamu dengan pengalaman saya sebagai barista selagi kita menunggu mimpi buruk Covid-19 berakhir.